Puisi Bencana Alam Terbaru 2016

Puisi Bencana Alam Terbaru


"Gempa Bumi dan Tsunami"

Diantara malam yang menyelimuti.
Tenang dan hening terasa hati.
Namun hati kembali tergugah.
Mendengar negara Turki seakan musnah..


Goncangan 7,1 skala richter terjadi.
Sekian detik saja menyertai.
Namun lihatlah dampaknya.
Kerusakan dan final hidup dimana-mana..


Kita tentu juga ingat beberapa bulan lalu.
Saat Jepang terkena bencana yang menyerbu..
Negara yang membanggakan kesiapannya.
Rata diguncang sekian menit saja..


Bumi kita memang seakan diam.
Namun menyimpan amarah yang terpendam.
Disaat dosa menumpuk diatasnya.
Alam bergerak selaksa murka..
Hanya beberapa menit saja.
Semua tak akan bisa lari dari hukuman-Nya..


Gempa yang mengguncang.
Dari gunung ditengah lautan.
Saat lingkup hati menjadi gamang.
Tsunami mengincar ketenangan..
Pertanda alam yang sudah renta.
Atau kita yang kian menumpuk dosa.
Mengihtiarkan jalan amanah Tuhan.
Namun tetap Saja terpengaruhi rayuan syetan..


Lantas apa yang akan terjadi.
Jika gempa bumi meratakan negri.
Siapkah kita menghadapinya.
Atau lari dari kenyataan yang ada..


Sadari wahai kawan.
Bumi ini yaitu kepunyaan Tuhan.
Yang dititipkan kepada kita manusia.
Untuk mewariskan pada generasi selanjutnya..

Puisi Bencana Alam Terbaru



"Bencana Alam"


Dalam Hangat pelukan mentari.
Diri terbalut mendung keresahan.
Resah bila bumi tak sudi lagi dipijak.
Resah jikalau laut tak bisa lagi memikul airnya.
Resah jikalau gunung tak sanggup lagi bangkit tegak.


Air mata ini belum lagi kering.
Puing-puing derita masih tercicir disepanjang jalan.
Terdengar lagi jeritan saudaraku disana.
Terdengar lagi jeritan teman-temanku disana.
Terdengar lagi jeritan para sahabat-sahabatku disana.
Bencana, bencana dan bencana...


Tak henti-hentinya menggoreskan duka.
Apakah ini suatu cobaan?
Ataupun Peringatan?
Ataukah azab Tuhan?
Fikirkanlah..
Renungkan lah..
Dan bertaubatlah selagi mentari pagi masih memanancar sinarnya..

Puisi Bencana Alam Terbaru



"Banjir Lagi.."



Lihatlah kami disini.
Berteman banjir setiap hari.
Berjalan menuju daerah pengungsian.
Mencari daerah perlindungan..


Lihatlah generasi muda bangsa.
Yang berteman banjir kesekolahnya.
Menggenangi beranda dunia.
Tapi mereka tetap merintis mimpi dunia..


Anak-anak SD yang tiada tahu apa-apa.
Akan kerakusan para pemilik kuasa.
Membabat hutan dengan jumawa.
Tertawa ditempat istananya..

Namun roda ekonomi terus berlari.
Tiada perduli akan kebanjiran ini.
Dan tetap berteman genangan air.
Dari terbit fajar sampai mentari berakhir..


Salah siapa ini terjadi.?
Para pemilir disana terus berkata.
Banjir menjadikan kita merugi.
Sambil duduk tenang ditempat hangatnya..


Uluran tangan para penderma.
Terasa kurang dan tiada merata.
Dan pemerintah hanya berusaha.
Namun banjir tahunan tetap melanda..


Banjir yang merugikan.
Genangan air yang menyengsarakan.
Namun langkah kaki manusia.
Tetap terperosok di jalan yang sama..
Berfikir kembali dan terdiam.
Aku termangu dalam kelam..

Komentar